Akibat Cuaca Yang Tidak Mendukung, Pesawat Super Tucano Akan Dipecah-pecah Dalam Operasi Evakuasi

Binar Eka Harisa
5 Min Read
Pesawat Super Tucano

JAKARTA – Kepala Dinas Penerbangan TNI AU Marsma R Agung Sasongkojati mengatakan proses evakuasi puing dua pesawat Super Tucano TNI AU yang mengalami kecelakaan di Pasuruan terhambat cuaca.

Namun demikian, kata Agung, hari ini Minggu (19/11/2023) sejumlah bagian dari pesawat telah berhasil diangkat.

“Pada hari ini kami sudah berhasil mengangkat beberapa bagian dari pesawat. Belum seluruhnya karena ada masalah cuaca yang sangat mengganggu,”

kata Agung dalam keterangan video pada Minggu (19/11/2023).

Agung mengatakan, proses pencarian dan pengumpulan puing-puing pesawat akan terus dilanjutkan dengan melihat kondisi cuaca yang ada.

Bangkai pesawat Super Tucano itu, kata dia, rencananya akan dipotong-potong beberapa bagian agar mudah diangkut. 

“Karena tidak mungkin mengangkut dengan udara, namun akan diangkut lewat jalan darat. Dan ini agak sulit mengingat medan yang sangat terjal dan berbatu serta tidak keras,”

kata Agung.

Pasukan Elit Dilibatkan 

Pasukan elit TNI Angkatan Udara (AU) yakni Komando Pasukan Gerak Cepat (Kopasgat) juga turut dikerahkan untuk mendampingi tim investigasi yang melakukan penyelidikan terkait kecelakaan dua pesawat Super Tucano TNI AU di Pasuruan Jawa Timur pada Kamis (16/11/2023) kemarin.

Agung menjelaskan tim dari Kopasgat akan mendampingi tim investigasi dari Pusat Kelaikan dan Keselamatan Terbang Kerja (Puslaiklambangja) TNI AU dan juga tim dari Skadron Teknik.

Hal tersebut disampaikannya saat konferensi pers di Lanud Halim Perdanakusuma Jakarta pada Jumat (17/11/2023).

“Mengenai tim, timnya ada dua. Saya lihat sendiri bahwa timnya terdiri dari Puslaiklambangja, Pusat Kelaikan dan Keselamatan Terbang Kerja TNI AU didampingi oleh tim dari skadron teknik dan dari Depo Teknik. Selanjutnya juga didampingi oleh dari Komando Pasukan Gerak Cepat. Itu dua tim,”

kata Agung.

“Jumlahnya sekitar masing-masing 10 saya lihat. Namun lebih besar lagi karena pendampingnya banyak karena untuk mengangkut-angkut (puing pesawat),”

sambung dia.

Untuk proses investigasi, kata Agung, sementara ini sudah dapat dilaksanakan oleh internal TNI AU. 

TNI AU, kata Agung, memiliki personel yang merupakan lulusan dari sekolah-sekolah investigasi di luar negeri yang cukup handal khususnya di bidang penerbangan militer. 

Saat ini, kata dia, pesawat militer khususnya seperti Super Tucano, sudah dilengkapi dengan FDR di mana biasanya pesawat militer tidak dilengkapi dengan FDR 

Dengan demikian, kata dia, hal itu diharapkan dapat memudahkan proses investigasi.

“Tentu, kita akan gunakan bantuan (pihak) luar apabila kita kesulitan untuk mengungkap. Tetapi mestinya kami sementara masih bisa melaksanakan investigasi sendiri. Karena kita juga memiliki ahli-ahlinya, tentunya kita akan berupaya sendiri dulu. Baru setelah itu, kita minta bantuan dari luar,”

kata dia.

Agung mengatakan selain FDR, video-video yang beredar terkait kecelakaan pesawat tersebut dan juga keterangan warga juga akan dijadikan bahan investigasi.

Hal yang terpenting dalam proses investigasi tersebut, kata dia, adalah perbaikan dari prosedur saat pesawat tempur mengalami kondisi blind atau pilot tidak dapat melihat akibat awan tebal atau cuaca buruk saat sedang latihan terbang formasi.

Dengan demikian, kata dia, diharapkan seluruh pesawat yang terlibat dalam latihan terbang formasi dapat selamat bila mengalami kondisi tersebut.

“Jadi, tujuan dari investigasi adalah memperbaiki prosedur, menambah prosedur, atau mengurangi hal-hal yang tujuannya untuk keselamatan penerbangan dan keselamatan misi,”

kata Agung.

Cek 5M

TNI Angkatan Udara membentuk tim investigasi untuk mencari penyebab terjadinya kecelakaan jatuhnya dua pesawat Super Tucano Skadron Udara 21 Lanud Abdulrachman Saleh Malang pada Kamis (16/11/2023).

Agung mengatakan tim tersebut dibentuk oleh Pusat Kelaikudaraan Dan Keselamatan Terbang dan Kerja (Puslaiklambangja) TNI AU.

Tim tersebut, kata dia, akan melakukan investigasi dengan melihat sejumlah faktor.

“Faktor-faktor yang dikenal dengan istilah 5 M (Man, Machine, Medium, Mission and Management) secara menyeluruh terhadap penyebab jatuhnya kedua pesawat,”

kata Agung ketika dikonfirmasi pada Jumat (17/11/2023).

Tim, kata dia, akan memeriksa secara langsung kondisi pesawat pasca kecelakaan di lokasi kejadian.

Selain itu, lanjut dia, tim investigasi juga akan menjalani seluruh prosedur dalam menginvestigasi jatuhnya pesawat TNI AU, di antaranya kondisi cuaca pada saat kejadian, melakukan pemeriksaan seluruh personel yang terlibat dalam penerbangan dan berbagai kemungkinan lainnya. 

“Dan terutama Flight Data Recorder pesawat yang merekam data penerbangan, data mesin, data komunikasi penerbang dan video penerbangan sampai detik terakhir berfungsi,”

kata dia.

“Semoga investigasi berjalan lancar agar kita semua bisa mencegah hal yang sama terulang,”

sambung dia.

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *